Analisis Kekritisan Lahan Pada Fungsi Kawasan Konservasi DAS Citarum Dengan Software Arcgis

Authors

  • Dwi Hendra Kristianto Agroteknologi, FAPERTA UNWIM
  • Noertjahyani Noertjahyani Agroteknologi, FAPERTA UNWIM
  • Endang Sufiadi Agroteknologi, FAPERTA UNWIM

DOI:

https://doi.org/10.35138/orchidagro.v1i1.237

Keywords:

lahan kritis, kawasan konservasi, software ArcGIS

Abstract

Penelitian dilakukan pada Kawasan Konservasi di wilayah DAS Citarum salah satu DAS prioritas di Indonesia dan merupakan sungai terbesar dan terpanjang di Jawa Barat. Limabelas Kawasan konservasi yang merupakan hulu dari DAS citarum berperan penting sebagai penyangga kehidupan dan pengaruh tata air daerah dibawahnya.

Analisis Kekritisan Lahan pada Fungsi Kawasan Konservasi DAS Citarum dengan Software ArcGIS dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui berapa luas tingkat kekritisan lahan dan faktor-faktor apa yang menentukan tiap tingkat kekritisan lahan pada kawasan koservasi di wilayah DAS Citarum.

Dalam menentukan tingkat keritisan lahan pada kawasan konservasi di DAS Citarum, menggunakan Software ArcGIS yang merujuk kepada Surat Keputusan Direktur Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan Nomor. 41/Kpts/V/1998 jo. Surat Keputusan Direktur Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial Nomor. SK.167/V-SET/2004, variabelnya meliputi ; tutupan lahan, kemiringan lereng, kepekaan erosi dan manajemen pengelolaan.

Hasil analisis lokasi penelitian fungsi kawasan konservasi seluas 15.595,70 Ha, didominasi oleh kelas Agak Kritis seluas 8.999,58 Ha dan Potensial Kritis seluas 6.318,91 Ha dengan kontribusi sebesar 98,23% menyebar hampir pada setiap kawasan konservasi. Sedangkan kelas Kritis seluas 249,43 Ha (1,60%), kelas Sangat Kritis seluas 27,15 Ha (0,17%) dan tidak terdapat kelas Tidak Kritis.

Berdasarkan analisis korelasi dengan menggunakan software IBM SPSS Statistics 23, faktor yang berpengaruh terhadap setiap tingkat kekritisan lahan pada kawasan koservasi di wilayah DAS Citarum yaitu tutupan lahan yang menunjukan hubungan positif (signifikan). Nilai korelasi pada kelas sangat kritis sebesar 0,781 (R2=61,00%), kelas kritis sebesar 0,302 (R2=9,12%), kelas agak kritis sebesar 0,523 (R2=27,35%) dan pada kelas potensial kritis sebesar 0,367 (R2=13,47%). Dapat disimpulkan bahwa pada kawasan konservasi di DAS Citarum variabel tutupan lahan merupakan faktor yang sangat mempengaruhi terhadap tingkat kekritisan lahan.

Pengelolaan kawasan konservasi dapat difokuskan terhadap upaya perlindungan dan pengawetan kawasan yang merupakan dua dari tiga pilar konservasi, sehingga dapat menurunkan tingkat kekritisan lahan pada kawasan konservasi tersebut.

References

A’yunin, Q. 2008. Prediksi Tingkat Bahaya Erosi dengan Metode USLE di Lereng Timur Gunung Sindoro. Surakarta: Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret .
Abdullah, N. 2015. Laporan Praktikum Penginderaan Jauh. Bogor: Pascasarjana Ilmu Perencanaan Wilayah, Institut Pertanian Bogor.
Abdurahman, dkk. (2012). Dasar-Dasar Metode Statistika Untuk Penelitian. Bandung: CV. Pustaka Setia.
Aqsar, Z. E. 2009. Hubungan Ketinggian Dan Kelerengan Dengan Tingkat Kerapatan Vegetasi Menggunakan Sistem Informasi Geografis Di Taman Nasional Gunung Leuser. Medan: Dertemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.
Ashidiqi, R. 2015. Pemetaan Tingkat Bahaya Erosi Menggunakan USLE dan ARGIS di Wilayah Administratif PSDA Malang - Jawa Timur. Jember: Jurusan Teknik Pertanian, FAkultas Teknologi Pertanian, Universitas Jember.
As-syakur, A. R. 2008. Prediksi Erosi dengan Menggunakan Metode USLE dan Sistem Informasi Geografis (SIG) Berbasis Piksel Di Daerah Tangkapan Air Danau Buyan. Denpasar-Bali: Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH), Universitas Udayana.
Badan Standardisasi Nasional. 2010. SNI 7645:2010 tentang Klasifikasi Penutup Lahan. Jakarta.
BBKSDA Jabar. 2011. Rencana Pengelolaan Rehabilitas HUtan (RP-RH) Kawasan Konservasi Balai Besar KSDA Jawa Barat Periode Tahun 2011-2015. Bandung.
Consortium GIS Aceh Nias. 2007. Modul Pelatihan ArcGIS Tingkat Dasar. Jakarta.
Direktorat Jenderal KSDAE. 2015. Pedoman Penilaian Efektifitas Pengelolaan Kawasan Konservasi di Indonesia (Management Effectiveness Tracking Tool). Jakarta: Direktur Konservasi Kawasan.
Dirjen RLPS. 2004. Perdirjen RLPS tentang Petunjuk Teknis Penyusunan Data Spasial Lahan Kristis. Jakarta.
Herawati, T. 2010. Analisis Spasial Tingkat Bahaya Erosi di Wilayah DAS Cisadane Kabupaten Bogor. Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam, 413-424.
Islam, A. S. 2013. Pendugaan erosi dan tingkat bahaya erosi pertanian lahan kering pada fungsi kawasan lindung di sub das cilutung. Bandung.
Janie, D. N. (2012). Statistik Diskriptif Dan Regresi Linier Berganda Dengan SPSS. Semarang: Semarang University Press.
Joko, T. 2009. Analisis Erosi dan Konservasi Tanah di Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Wonogiri. Surakarta: Fakultas Geografi, Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Karyati. 2015. Parameter-Parameter Curah Hujan Yang Mempengaruhi Penaksiran Indeks Erosivitas Hujan Di Sri Aman, Sarawak. Jurnal AGRIFOR, Volume XIV Nomor 1.
KemenHum dan HAM. 2014. Permen LHK P.48 tahun 2014 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pemulihan Ekosistem di KPA dan KSA. Jakarta.
Parsa, I. M. 2003. Identifikasi dan Pemetaan Lahan Kritis menggunakan Teknik Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografi. Jurnal Manajemen Hutan Tropika, hal. 63-77.
Pertiwi, A. I. 2013. Identifikasi dan Pemetaan Lahan Kritis dengan Menggunakan Sistem Informasi Geografis dan Penginderaan Jauh. Bogor: Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, IPB.
Rusnam, d. 2013. Analisis Spasial Besaran Tingkat Erosi pada Tiap Satuan Lahan di Sub DAS Batang Kandis. Jurnal Teknik Lingkungan UNAND 10, 149-167.
Saputro, E. S. 2009. Analisis Tingkat Bahaya Erosi (TBE) pada Lahan Kering Tegalan di Kecamatan Tretep Kabupaten Tamanggung. Semarang: Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang.
Sekretaris Jenderal Dephut. 2008. Pedoman Teknis Rehabilitasi Hutan dan Lahan. Jakarta.
Sekretaris Negara Republik Indonesia. 1990. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Jakarta.
Silvikultur. 2016. Pengertian definisi istilah arti kata. 2011, hal. 1-5.
Sukoco. 2010. Pemetaan Erosivitas Hujan dengan Sistem Informasi Geografis. Speed, hal. 25-31.
Tunas, I. G. 2005. Prediksi Erosi Lahan DAS Bengkulu dengan Sistem Informasi Geografis (SIG). Jurnal SMARTek, 137 - 145.
Wijono, S. 1985. Pendugaan Erosi Dengan Mengunakan Metode USLE. Media Teknik, 18-22.

Downloads

Published

2021-02-22

Issue

Section

Articles